Laman

19 Okt 2011

a new start..

ok.. udah lama blog ini gak gw urusin..
 ada beberapa alasan..
- gw males ngurusin
- internet lemot
- kena omel ama nyokap kalo kelamaan di depan laptop
tapi.. gw pengen serius lg ahh.. sapa tau bisa kayak raditya dika ato kerani chaos @ work dll..
hehehe.. peace ^^~..

27 Mar 2011

cerpen ini ditulis oleh teman facebook saya. Anda bisa menemukannya di Facebook dengan mengetikkan nama Fancha Cluvers. Silakan membaca..

TEMAN LAMA.

“Hei...”
“Apa?”
“Aku harus pindah rumah..”
“Pindah? Kemana??”
“Ke.. kota lain...”
“Yah... Aku nggak bisa ketemu kamu lagi dong?”
“Kita bisa bertemu lagi! Aku janji suatu hari aku akan kembali!”
“Tapi, nanti kita kan sudah nggak kayak begini. Kita sudah berubah.”
“Ya, tapi kita punya pengikat persahabatan, kan? Tenang saja! Aku akan mengenalimu dari pengikat persahabatan itu!”
“Janji?”
“Janji!”

J L J

Nico mendesah pelan sambil memegang rapor dan ijazah kelas 6 miliknya yang menyatakan dia lulus ujian dan bisa masuk SMP tanpa harus mengulang kelas 6. Jumlah NEM yang begitu tinggi sama sekali tidak membuatnya bahagia. Rapor dan ijazah itu malah membuatnya menetes air mata. Tetes air mata itu jatuh satu per satu dari dagunya dan sampai di kakinya. Nico tidak ingin pulang, kakinya terasa lemas. Memori di kepalanya serasa terputar kembali dalam pikirannya. Tidak ada lagi yang tersenyum bangga padanya, tidak ada lagi yang bercanda dengannya, tidak ada lagi yang membandingkan nilai dengannya, tidak ada lagi yang menghampirinya dengan senyum lebar. Semuanya kebahagiaannya bagaikan pergi begitu saja bahkan saat Nico baru merasakannya sebentar. Saat TK ia mendapatkan sahabat baik, saat kelas 2 SD ia harus merelakan kepergiannya.
Nico melangkahkan kakinya keluar gedung sekolah sambil membawa rapor dan ijazahnya itu. Tak ada gunanya lagi ia di sekolah kalau hanya akan membuatnya semakin sedih. Nico melangkahkan kakinya keluar sekolah dan pergi menjauhi SD Barunawati, sekolahnya itu.
Sebenarnya siapa sih Nico ini? Nico ini murid SD Barunawati, anak cowok yang sangat cuek. Dia hanya bisa menjadi orang yang benar – benar perduli dan baik hati pada teman – temannya yang ia kenal baik. Kalau hanya sekedar teman, ia benar – benar cuek.
“Gue kangen sama lo...” desahnya pelan.

J L J

Seorang cowok berambut gondrong tebal turun dari mobilnya dan menatap gedung yang masih asing di matanya. Ia menoleh ke arah Mamanya dan bertanya pelan, “kita pindah ke sini, Ma?”
“Iya, sayang,” jawab Mama sambil mengelus rambut anak itu.
“Ada studio dramnya kan, Ma?” tanyanya lagi.
“Iya dong, Ray. Biar kamu bisa latihan.” kata Mama.
Cowok itu bersorak gembira. Lalu, ia dan Mamanya masuk ke dalam rumahnya yang baru. Mama membereskan barang – barang yang mereka bawa dari rumah lama ke rumah baru itu. Sedangkan anaknya, ia berlari ke kamar dan melihat kamarnya yang baru. Bagus, pikirnya. Walaupun ia pernah tinggal di kota ini, Jakarta, sebelumnya dengan rumah yang berbeda sebelum ia pindah ke Surabaya, tapi baginya rumah ini lebih bagus daripada rumahnya. Pasalnya, anak ini anak Jakarta, pindah ke Surabaya, lalu sekarang balik lagi ke Jakarta dengan rumah baru, karena rumahnya yang dulu ia jual.
Anak itu menghempaskan tubuhnya dengan senyum bahagia. Ada satu hal yang membuatnya sangat senang bisa kembali ke kota asalnya ini. Ada satu hal yang ingin dicapainya.
“Ray! Bantu Mama dong!” seru Mamanya dari bawah.
“Sebentar, Ma!” seru anak itu, ya, dia bernama Ray. Tapi, setelah itu, dia bukannya beranjak dari tempat tidurnya, ia tak bergerak sedikitpun dari tempat tidurnya dan berbicara sendiri di kamarnya, “Apa lo masih inget sama gue?”

J L J

“Hm.. Sekolah yang bagus,” kata Ray tersenyum menatap sekolah barunya. Ini hari pertamanya Ray masuk sekolah. Dan sebagai murid baru yang baik, Ray nggak mau terlambat pada hari pertamanya. Ray datang ke sekolah pagi – pagi jam enam. Ia ingin menjelajahi sekolah dulu sebelum ia belajar di sekolahnya supaya nanti kalau sudah mulai sekolah, ia nggak akan bingung lagi walaupun masih asing dengan sekolahnya itu. Ray melangkahkan kakinya menelusuri koridor sekolah. Ia meletakkan tas hitamnya di bangku panjang yang ada di koridor itu dan meninggalkan tasnya di sana. Ia berjalan – jalan di sekolah. Ia melihat ruang guru, perpustakaan, toilet, beberapa kelas dan juga kantin. Menurutnya, sekolahnya yang baru itu sangat bagus. Kantinnya luas, toiletnya bersih, ruang gurunya indah, kelas yang di pasang dua AC, Ray yakin bisa nyaman sekolah di sini.
Ray berjalan – jalan sampai akhirnya... BRUK!!
Ray terjatuh ke lantai dengan kepalanya yang sangat sakit akibat suatu benda yang menghantamnya dengan kuat barusan. Rasanya bola basket. Ya, rasanya bola basket yang barusan menghampirinya. Ray memegang kepalanya yang terhantam bola basket itu dan mencoba duduk. “Auw...”
“Heh!” seru si pemilik bola basket itu marah sambil mengambil bolanya yang berhenti di sebelah Ray tanpa memperdulikan kepala Ray yang sakit terkena lemparan bolanya yang meleset. “Punya mata nggak sih lo?! Pake di pinggir lapangan! Udah tau ada yang main basket.”
Ray terdiam mendengar si pemilik bola itu marah. Ray mengangkat kepalanya, menatap si pemilik bola yang sudah menatapnya tajam. Ray berdiri dan menatap si pemilik bola itu. Karena tak tahu apa yang harus dikatakan, Ray hanya mampu mengeluarkan satu kata dengan pelan, “Maaf.”
“Mendingan lo pergi, karena gue lagi nggak mau ada orang di sini! Pergi, balik aja ke kelas lo!” serunya sebal.
“Tapi.. gue nggak tahu kelas gue yang mana. Gue anak baru.”
“Ya tanya guru lah, BEGO!” teriaknya.
Ray akhirnya tak berani bersuara, lalu langsung melangkah pergi menjauhinya dengan langkah gontai. Baru saja ia senang bisa berada di sekolah barunya, eh malah sudah dimaki oleh salah satu murid yang juga bersekolah di sana. Benar – benar hari yang tidak enak. Bukannya mendapat teman, tapi malah mendapatkan musuh.

J L J

Sebenarnya, Ray sebal juga dengan anak yang memiliki bola basket itu. Kejadian kepalanya terkena bola basket itu benar – benar bukan salahnya, kan? Waktu itu kan karena ia melempar bola basketnya meleset, makanya jadi kena kepalanya Ray. Harusnya dia dong yang minta maaf? Uh, Ray menyesal bertindak lemah di hadapannya waktu itu. Sekarang, Ray punya teman, walaupun tak bisa di bilang teman dekat. Dan dia ternyata teman satu tim basket sama anak yang melempar bola yang menghantam kepalanya itu. Katanya, anak itu memang cuek dan emosian.
Hari ini hari ketujuh Ray bersekolah di sana, itu berarti ia sudah seminggu ia bersekolah di SMP Barunawati. Ray masih belum bisa menyakinkan dirinya kalau dia betah di sekolah itu akibat pemain basket itu. Pasalnya, Ray suka pelajaran dan teman – teman sekelasnya, mereka baik semua. Tapi, saat istirahat, rasanya tak seenak saat di kelas. Untung saja dia nggak sekelas dengan Ray!
“Ray, lo mau ke kantin nggak? Daripada suntuk di kelas.. Manyun terus.” kata Cakka, teman sebangku Ray yang merupakan teman pemain basket menyebalkan itu.
“Iya deh,” jawab Ray tersenyum sambil mengepalkan tangannya. Ray mendesah pelan sebelum beranjak dari kursinya. Lalu, menatap Cakka. “Ayo.”
Lalu, mereka langsung keluar kelas dan berjalan menuju kantin.
“Ray, heran deh gue. Kok lo selalu mengepalkan tangan lo setiap saat? Emangnya ada apaan itu tangan?” tanya Cakka.
Ray tersenyum manis menanggapinya. Ray mengangkat tangan yang ia kepalkan itu, lalu menatapnya sambil tersenyum. Lalu, menoleh ke arah Cakka lagi. “Oh, nanti lo bakal tau...”
“Ada apa sih? Bikin penasaran aja...”
Ray tak menjawab pertanyaan itu. Mereka terus berjalan di koridor sekolah, menelusuri teman – teman yang sedang heboh mengobrol dengan masing – masing kelompok. Dan ada beberapa anak basket yang bermain basket di lapangan.
“Ray, awas!” kata Cakka kaget melihat bola basket melayang ke arahnya.
“Aduh!”
Lagi – lagi Ray terjatuh akibat lemparan bola basket. Ray terjatuh dan sekarang kepalanya nyut – nyutan. Ray bangkit untuk duduk dan memegang kepalanya yang sakit. Tapi, kali ini bukan sakit lagi, sakit banget! Rasa sakit untuk lemparan bola basket yang waktu hari pertama saja belum hilang, ini udah ditimpuk lagi.
Seorang dari anak basket itu datang mengambil bola yang ada di sebelah Ray. Persis sekali dengan kejadian waktu Ray hari pertama bersekolah. Ray mengangkat kepalanya.
“Astaga, elo?” Ray kaget. Pemain basket yang sama.
Pemain basket itu membesarkan matanya melihat siapa yang kena lemparannya. “Elo lagi!? Heran ya gue, lo itu nggak bisa ya lewat jalan lain? Udah tahu bola basket sering nyasar ke sini, nggak kapok lo gue timpuk waktu itu?! Anak baru aja belagu!”
“Bangga ya lo, di puji – puji guru, sok sok baik sama semua orang di sini, bikin gue muak aja! Yang harusnya jadi pusat perhatian itu harusnya anak – anak basket! Semenjak ada elo, anak – anak basket dicuekin sama semua orang! Dan apa yang diperhatiin? Elo! Elo yang katanya pinter lah, baik lah, juara kelas lah!!”
Ray menahan tangisnya mendengar semua omongan pemain basket itu. Memang benar Ray itu disenangi banyak guru di SMP Barunawati ini, karena Ray pintar, baik sama semua orang dan memang tahun lalu baru juara kelas. Karena sudah nggak tahan, Ray berdiri dan menarik baju basketnya itu.
“Asal lo tahu, gue lewat sini cuma mau ke kantin! Gue pikir nggak ada jalan lain ya untuk ke kantin selain lewat sini! Dan sori, gue bukannya mau merebut semua perhatian guru! Mereka yang perhatiin gue dan gue harus menghargai mereka!” kata Ray sebal. Kepalan tangannya spontan terlepas. Sebuah benda jatuh dari tangannya itu.
Ray menoleh ke arah lantai, mendapati benda yang selalu ia genggam itu jatuh ke lantai. Ray melepas tangannya dari baju basket anak itu dan memungut benda itu dan menatapnya.
Pemain basket itu menoleh juga ke arah benda itu. Lalu, SETT! Kaget. “Itu...”
Ray menoleh ke arah anak itu, kaget kalau anak itu mengenali benda yang ia pegang itu.
Anak itu langsung membuka baju basketnya, di dalamnya ia sudah memakai kaus oblong putih. Ia mengambil kalung yang sudah semenjak kelas 2 SD dia pakai, sebuah kalung dengan liontin yang terbelah dua. Lalu mengambil benda yang di pegang Ray itu. Benda yang mirip dengan belahan liontin itu. Ia menyocokkan belahan itu pada liontinnya yang terbelah dua. PAS!!
Anak itu kaget, Ray juga ikut kaget. Anak itu menatap Ray. “Jadi lo... Elo Ray?!”
“Elo.. Elo Nico?!” kata Ray kaget setengah mati.
“Ya ampun!!” kata anak itu, yang ternyata Nico langsung menyerbu Ray dalam pelukannya. “Ternyata elo ya temen kecil gue yang pindah waktu kelas 2 itu!”
“Nico... ya ampun, gue kangen sama lo!!” seru Ray senang, bisa bertemu dengan teman lamanya.
Nico melepas pelukannya. “Gila, sorry bro, gue beneran nggak tahu kalo lo itu Ray. Tau begitu, ngapain gue pake jailin lo segala waktu hari pertama.”
“Lo sih! Emosian banget!” kata Ray tertawa.
Cakka menatap Ray dan Nico senang. Ternyata, kedua anak itu teman lama. Cakka sampai nggak menyangka. Dan ternyata, kepalan tangan Ray itu menyimpan seberkas memori yang tertinggal dengan sahabatnya itu. Benar – benar mengharukan.


 THE END...

Here we go ...

Hai .. salam kenal ya .. blog ini baru lahir,, dan sebagai pencipta blog ini, saya akan mengisi blog ini dengn cerpen saya, teman-teman saya, dan semua yang ingin mengirimkan cerita anda di sini... tidak harus cerpen kok.. pengalaman, sharing anda, curhat , apa saja deh.. asal kata-katanya harus disensor dulu, ok ??
sekian dulu perkenalannya,, sampai jumpa...
semoga visitor(s)nya banyak.. Amieennn..